
Persiapan Touring Bandung–Malang
Jalur selatan yang berliku itu mungkin panjang, panas, dan melelahkan. Bagiku, duduk di jok belakang motor klasik sambil memandang garis langit yang terus berubah justru menghadirkan aneka rasa yang sulit dijelaskan.
Mei 2026, kami kembali memulai perjalanan jauh. Kali ini menuju Malang, kota yang sudah lebih dari sebelas tahun tidak kukunjungi.
Perjalanan touring yang terasa berbeda, tujuannya bukan sekedar menghadiri event anniversary club motor legendaris seperti biasanya dilakukan. Internasional Classic Bike Rally yang diselenggarakan oleh Motor Antique Club Indonesia dengan tajuk Jelajah Warisan Nusantara-Jawara 2026, rute Malang-Solo, menjadikan kami salah satu pesertanya.
Aku pergi membawa harapan dan semangat yang berkobar di jiwa, ini bukan riding yang biasa! Tapi akan menambah lagi satu porto kehidupan yang kusebut “My Endurance journey“.
Itinerary Touring Bandung–Malang Hari Pertama
Persiapan telah dilakukan sejak pagi. Senin, 14 Mei 2026, motor sudah siap, pun dengan perlengkapan traveling selama seminggu ke depan telah ditata dalam side bag motor dengan packing sesimpel mungkin.
Siang ba’da dzuhur, kami memulai perjalanan melewati jalur Bandung Timur yang kian terik.
Menimkati suasana sepanjang jalan Batim ketika di luar kebiasaannya, di mana volume kendaraan lebih lengang dan lancar hingga masuk Cileunyi. Cuaca terasa masih bersahabat, panas tapi tak terlalu menyengat, masih aman lah buat melintasi rute ikonik Nagreg yang meliuk dengan suguhan cantiknya.
Entahlah, kenapa jalur Gentong yang membuatku selalu melafalkan dzikir ini menjadi tantangan tersendiri. Motor klasik Sportster dengan kapasitas mesin 900cc semakin diajak ngebut, makin terasa berisik membuatku gelisah karena gesekan bannya di tiap tikungan tajam.
Lama-lama aku mulai tenang dan ikut meliukkan tubuh mengikuti ritmenya. Jangan dilawan, tapi dinikmati!
Biasanya tempat favorit kami untuk istirahat sekalian makan dan sholat itu di rumah makan Man Jabal 2 yang tak jauh dari perbatasan Tasik-Ciamis. Tapi karena berangkatnya siang, setelah sempat sarapan dan masih belum dirasa lapar, jadi kami terus lanjut gas!
Setiap melintasi perbatasan Jawa Barat itu rasanya ada kebanggaan yang sulit dijelaskan, aku hanya bersyukur telah melewati tantangan demi tantangan di sepanjang jalur nasional yang akhirnya mengantarkan kami ke batas Provinsi.
Sore sekitar jam 16.10 waktu Majenang, aku meminta untuk istirahat setelah hampir 5 jam gas pol, ini baru setengahnya perjananan sampai kota transit. Berhenti di Indomaret dan kebetulan di sampingnya ada warung sate yang rame, waktunya makan siang di sini.
Berikut adalah estimasi waktu perjalanan Bandung-Malang.
| Rute | Estimasi Waktu |
| Bandung-Majenang | 5 jam |
| Majenang-Yogyakarta | 5 jam |
| Yogyakarta-Tulungagung | 6-7 jam |
| Blitar-Malang | 2-3 jam |
Transit Menginap di Yogyakarta

Estimasi kami sampai di Yogyakarta untuk beristirahat sekitar jam 21.00, molor hampir satu jam dari perkiraan. Jeda sejenak di warung jasuke daerah Tugu, sekalian nyari hotel via Online Travel Agent langganan. Setelahnya aku nyebrang jalan buat bungkus nasi gudeg yang akan dimakan nanti. Hotel yang kami pilih adalah POP! Hotel Timoho Yogyakarta, karena lokasinya cukup strategis untuk transit semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur.
Di Yogyakarta rencananya mau lari pagi buat jaga badan tetap bugar, tapi itu cuma wacana ya haha, aku mau ngasih hak badan buat istirahat maksimal aja. Sementara itu, suami sibuk ngoprek motornya di parkiran hotel. Ya, namanya juga motor tua jadi harus dicek berkala.
Sekitar jam 10 pagi, 15 Mei 2026. Setelah menyantap sarapan yang diantar ke kamar, kami meninggalkan hotel menuju Sukoharjo, mampir ke bengkel Pitstop buat ngecek lagi motornya. Di Sukoharjo sempat jalan dan jajan di sekitaran mall depan bengkel, meski panasnya terasa membara dan auto bikin bete!
Tersesat di Jalur Pegunungan Tulungagung
Maps membawa kami ke dataran tinggi di Tulungagung, aku cek di jam sekitar 1000-an Mdpl. Di mana sore itu kabut turun semakin tebal, kondisi jalur rollingan naik turun yang sisi kiri kanannya jurang, berulang kali keluar masuk hutan dan desa yang sepi hingga malam.
Mulutku tak berhenti berzikir, berusaha tetap tenang, dan sesekali ngomel ke suami karena udah tau nyasar tapi tetap gas sampai bablas ke atas gunung.
Setelah nemu warung yang jual bensin di area tertinggi jalur gunung itu. Info dari Ibu pemilik warung, ini tinggal turun aja, ternyata banyak yang nyasar juga katanya. Perasaan yang tadinya tegang berbalut kalut bisa sedikit terurai dan mulai lega, setidaknya ada kepastian arah keluar dari jebakan hehe.
Malam menunjukkan pukul 22.10 saat keluar dari kawasan wisata alam tersebut. Kota Tulungagung menyambut kami dengan perut yang mulai kelaparan, akhirnya kami menemukan warung pecel yang tampak ramai pengunjung dan lumayan enak rasanya. Lokasinya tak jauh dari alun-alun kota yang dijuluki Kota Marmer itu.
Perjalanan menuju Malang sekitar 3 jam lagi, tapi aku sudah tak mampu melawan kantuk dan badan semakin terasa lelah. Blitar adalah tujuan untuk beristirahat selanjutnya.
Keesokan paginya, baru melanjutkan lagi perjalanan ke Malang dan mampir di Sumberpucung untuk menemui teman yang mengundang sarapan nasi rawon legend di sana. Lalu memasuki hotel di Jalan Telomoyo, Malang untuk menikmati kota yang adem ini, sebelum acara rally 2 hari lagi.
Budget Touring Bandung–Malang
| Kebutuhan | Estimasi |
| Bensin Pertalite (6x isi) | 510.000 |
| Makan selama perjalanan sampai Malang | 1.050.000 |
| Hotel 4N + breakfast (1x) | 858.500 |
| Jajan camilan | 247.000 |
| Laundry (2x) | 84.000 |
| Total | 2.749.500 |
Budget ini digunakan untuk 2 orang selama perjalanan Bandung hingga 2 hari di Malang, di luar biaya event rally dan perjalanan pulang.
Barang Bawaan untuk Long Ride
Karena membawa barang di motor klasik cukup terbatas, aku memilih packing sesimpel dan se-compact mungkin.
Outfit & pakaian
- Jersey quick dry/kaos katun
- Rok panjang berbahan ringan
- Bergo panjang
- Kemeja linen
- Jaket riding
- Celana pendek suami
Perlengkapan ibadah & personal
- Mukena traveling
- Skincare & make up dalam satu pouch
- Alat mandi travel size
- Handuk travel
Perlengkapan penting
- Jas hujan
- Obat-obatan pribadi
- Kartu identitas & ATM
- Matras roll
- Sepatu lari ultra boost
Aku mengemas pakaian menggunakan travel organizer IKEA sebanyak dua kantong agar lebih rapi dan mudah diakses selama perjalanan, semuanya masuk ke side bag motor dan sisanya di backpack ultralight dari Beyond The Vines.
Tantangan Touring Motor Jarak Jauh
Namanya long rides, tentu akan banyak ditemui tantangannya. Terlebih pada motor tua yang bisa mengalami kendala kapanpun. Beruntungnya kondisi motor selama perjalanan lancar sampai tujuan, hanya sesekali pengecekan dan masih bisa diatasi dengan baik.

Cuaca panas yang sering membuat ngantuk, ini sih yang paling berat bagiku!
Minum kopi dalam kemasan yang dibeli di minimarket cukup mengembalikan kesegaran kembali.
Kesulitan yang dihadapi saat nyasar ke tempat yang tidak semestinya. Ketenangan sangat dibutuhkan untuk tetap fokus dan waras di segala situasi.
Kemalaman di jalan menjadi tantangan berikutnya. Target waktu mulai meleset, badan terasa lelah, sementara jalan lintas nasional dipenuhi truk-truk besar yang membuat trafiknya jadi padat dan lambat. Sungguh, ini bikin jenuh dan asapnya sangat mengganggu!
Beberapa kali kami harus melewati area persawahan yang gelap dengan angin malam yang cukup kencang. Belum lagi serangga-serangga yang beterbangan dan menghantam jaket sepanjang perjalanan.
Tips Endurance Riding Sebagai Boncenger
Classic bike, long road, endurance, bukanlah perjalanan yang mudah dilalui. Sejak awal ikut touring sebagai boncenger, aku diajarkan untuk bisa menikmati setiap ritme perjalanan dengan tak banyak ngeluh juga tenang. Pastinya ini akan menguji daya tahan tubuh dan mental, untuk itulah aku mempersiapkan mindset bahwa petualangan ini akan mengasyikkan. Lama-lama jadi suka, ikut larut dalam hobi yang bisa dibilang ekstrim ini. Bukan sebagai pendamping selama perjalanan, tapi juga teman berbagi suka dukanya.
Persiapan fisik aku bantu dengan melatih setiap otot, angkat beban jadi keharusan! Rutin olahraga, mengatur nutrisi dan menjaga kualitas tidur sebagai 3 pilar penting yang dapat membantu kelancaran long riding.
Oyah, satu lagi yang nggak kalah pentingnya adalah membantu suami mengelola budgeting dan menyiapkan segala kebutuhannya.
Catatan dari Jok Belakang
Sudut pandang dari seorang boncenger, aku memahami bahwa perjalanan jauh bukan hanya soal kuat duduk berjam-jam di atas motor.
Ada ritme yang harus dipahami bersama. Kapan harus diam. Kapan bercanda untuk mencairkan suasana. Kapan memberi saran ketika tubuh mulai lelah atau arah perjalanan mulai terasa salah.
Bagiku, kepercayaan terhadap rider adalah bagian paling penting dalam agenda long ride.
Di atas motor klasik itu, aku belajar menjadi partner perjalanan yang benar-benar hadir, bukan sekadar penumpang.
Ratusan kilometer di atas motor klasik itu akhirnya membawaku kembali ke Malang, kota yang pernah menjadi bagian mengesankan dalam hidupku.
Dan seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, aku kembali belajar bahwa touring bukan hanya tentang tujuan akhir. Tapi tentang bagaimana dua orang bertahan, menikmati jalan, dan tetap berjalan bersama sampai tiba.



